archive-id.com » ID » F » FEMINA.CO.ID

Total: 1340

Choose link from "Titles, links and description words view":

Or switch to "Titles and links view".
  • Sangkar di Atas Leher [1]
    Pi suara Santi terdengar kehilangan ceria Sampai separah itu ya Sampai kau tak lagi tertarik menari Terdengar begitu histeris Akhir akhir ini badanku lemas sekali kehilangan gairah untuk melakukan apa pun Sesak dada Santi Hamil muda kan memang begitu San Cobalah kau tukar pengalaman dengan Laras Mual dan lelahnya justru akan hilang saat kau sibukkan dirimu dengan suatu kegiatan Percaya padaku deh Terdengar embusan napas berat Santi Ada kalimat yang terhenti keluar dari bibir Tentu saja Santi juga kangen pada Laras Mereka dulunya adalah empat sekawan yang sudah dikenal di kawasan Yogya Solo Ratna konon juga masih eksis di dunia tari Dari cerita yang Santi tanyakan kepada Palupi tampaknya ia telah berhasil meraih apa yang dulu sempat dicita citakannya Aku ingin mengawinkan yang tradisional dengan tari tari modern dari luar Akan kucari unsur unsur kesamaannya mana yang bisa dikawinkan dan mana yang tidak Tunggu tanggal mainnya ya Aku akan mendirikan sebuah sanggar tari ujar Ratna terakhir kali yang masih Santi ingat Yang justru bermula dari keisengan Santi mengawinkan tango dengan jaipongan Beberapa bulan kemudian nomor Ratna tak pernah bisa dihubungi lagi Jadi tampaknya Om Probo memang sudah benar benar kehilangan murid generasi terakhirnya setelah pernikahan Laras yang kemudian disusul Santi Aku tak yakin bisa menarik keluar Laras dari sangkarnya jawab Palupi ketika Santi giliran bertanya tentang sahabatnya itu Padahal mulanya kukira dia akan tetap bisa bertahan bersama kami Kenapa Jadi kamu belum tahu ya Kenapa sih penasaran Santi Persalinan keduanya melahirkan anak kembar Jadi anaknya sekarang sudah tiga Kayaknya kamu juga belum tahu kan Tentu saja aku tak tahu Ayolah cerita Memangnya Laras kenapa Insting Santi membisikkan sesuatu Santi menikmati ini suasana yang seperti ini Dulu mereka juga kerap membicarakan satu sama lain Semoga saja kamu tidak mengalami seperti apa yang dialami Laras Begini saja kapan kamu punya waktu luang Kuajak kau ke sana ujar Palupi yang lalu membangkitkan khayalan Santi tentang dirinya dalam balutan angkinan Santi pun akhirnya membuat janji dengan Palupi Sementara Hendra disibukkan dengan pencarian anak barunya lagi Katanya ia akan berburu sang jagoan lagi entah itu lovebird kenari cucakrowo atau entah apa lagi Santi benar benar tak peduli Aku ingin pulang ujar Santi saat di pembaringan Sebuah rencana telah tersusun di dalam kepalanya Mata Hendra langsung menemukannya Terdengar helaan napas kemudian Aku ingin menjenguk Emak Hen bernada menekan Aku tak paham entah apa yang membuatmu bosan di sini Entah kurang apa lagi kau itu Aku ingin menjenguk emakku Hen Bukankah beliau sudah menjadi orang tuamu juga Solo Jepara itu bukan jarak yang dekat Kau sudah punya tanggung jawab dengan sesuatu yang tumbuh dalam perutmu sekarang Dua bulan lalu kau baru saja dari sana kan Santi menarik napas kecil Bukankah sekarang kau sudah tahu bagaimana penderitaan seorang ibu saat mengandung Orang macam apa yang tega melarang seseorang yang ingin menjenguk ibunya Santi seperti baru saja menemukan kekuatan baru Sebuah alasan kuat agar ia bisa melihat Solo lagi Baru seminggu lalu obat dari Dokter Imam habis Betapa rasa waswas masih menghantui pada kehamilannya yang ketiga ini Tubuhnya sempat

    Original URL path: http://www.femina.co.id/article/sangkar-di-atas-leher--1- (2016-02-15)
    Open archived version from archive

  • Sangkar di Atas Leher [2]
    keadaannya Burung burung dalam sangkar itu selalu lebih menyita perhatiannya Sesuatu yang sungguh aneh mengingat sebelum tali pernikahan menyatukan mereka betapa seringnya Hendra menghujani dengan SMS SMS yang penuh perhatian Tampaknya kamu harus cuti lebih lama lagi ya sahut Palupi begitu Santi mengakhiri cerita penderitaannya Enggak Pi Aku ke sini memang niat untuk ikut menari lagi kok sahut Santi buru buru Apa kondisimu mengizinkan menatap serius Justru itu Aku ingin melawan semuanya dengan menari Pasti bisa Seperti saranmu kan Izinkan aku ya Aku juga ingin ikut membantu Om Probo jawab Santi Ada sesuatu yang ingin disampaikannya lagi Tapi entah mengapa mulutnya tak mau mengungkapkannya Sebuah penderitaan lain yang justru lebih lama telah ia derita Mulai lagi Kicau seekor burung yang tinggal di dalam kepalanya mulai riuh lagi Santi menengok ke sana ke mari Tapi memang tak ada burung di sekitar tempat ini Riuh kicau burung itu benar benar seperti berasal dari dalam kepalanya sendiri Ada seekor burung yang sedang terperangkap dan ingin meloloskan diri Santi mengira ada sangkar yang harus ia buka pintunya lagi Tapi bagaimana caranya jika burung itu justru terperangkap di dalam kepalanya Berhari hari Santi pernah mencoba mencari cara untuk menghilangkan keanehan ini Menghilangkan suara seekor burung yang tiba tiba terperangkap dalam kepalanya itu Apapun cara Dari menyumpal kedua lubang telinganya dengan earphone telepon genggam yang memperdengarkan lagu lagu tidur seharian pergi memanjakan diri ke tempat tempat wisata sampai akhirnya ia pun menemukan sebuah cara Mulanya adalah ketaksengajaan Seekor burung lovebird milik Hendra sekarat Santi menyaksikan semuanya Ketika teman teman Hendra riuh ingin ikut menentukan nasib burung malang tersebut Ada yang usul diberikan ke kucing saja ada yang usul dibakar saja lantaran penasaran dengan rasa daging burung lovebird ada yang usul diberi betina ke dalam sangkarnya saja siapa tahu lantas bisa langsung sembuh Dan akhirnya sebuah keputusan itupun diambil Hendra Santi masih ingat betul sensasinya Ketika diam diam ia mengintip adegan itu Hendra mengambil lovebird malang itu dan lalu meletakkannya di ranting pohon sirsak depan rumah Lovebird itu tiba tiba terbanglah dengan gesitnya Seolah ia tak pernah sakit sebelumnya Hendra pun mengumpat sejadi jadinya Ia langsung gegas mengambil senapan angin dalam kamar Meski burung yang pernah menyumbangkan tiga piala untuknya itu sudah tak terlihat kelebat sayapnya lagi tapi Hendra tetap menembak berkali kali Hingga pelurunya habis Santi rasa kesal dalam dada Hendra tak juga surut lantaran ia jadi gampang uring uringan sesudah itu Tapi ada sensasi aneh yang takkan Santi lupa atas kejadian itu Kepalanya mendadak terasa lega Entah bagaimana tiba tiba kepalanya terasa lapang sekali Begitu damai dan tenteram Seolah riuh kicau burung yang memenuhi kepalanya kemarin adalah suara penderitaan lovebird yang merindukan kebebasan itu Begitulah Setiap kali Santi merasai gejala itu saat tersadar entah mengapa ia selalu mendapati Hendra yang marah marah lantaran kehilangan burung kesayangan Santi kembali merasakan sesuatu yang berada di dalam perutnya meronta saat melihat Hana yang tadi sempat dilihatnya begitu lahap menyantap soto iga sapi saat jam istirahat latihan menari Begitu menyadari gelagat ini Hana pun langsung mogok menghentikan semua gerakannya hingga semuanya turut menghentikan gerakannya termasuk para pengiring tetabuhan Apa tak sebaiknya dibagi menjadi dua tim saja Mbak Vita dengan aku sementara Mbak Santi dengan Mbak Palupi Kelihatannya Mbak Santi masih trauma denganku ujar Hana tanpa canggung Maaf aku benar benar minta maaf Aku memang masih terbayang bayang saat Hana menyantap soto tadi Entah mengapa aku selalu saja ingin muntah jika melihat makanan berbahan daging Sepertinya ini bawaan bayi Santi segera menyusuli ujaran Hana Palupi yang sekarang menjadi pemimpin kelompok itu menghampiri Santi Apa kau yakin masih ingin ikut menari dengan nada suara rendah Tentu saja Pi Apa kau takut aku akan mengacaukan semuanya Bukankah mual adalah gejala umum yang dialami seseorang yang tengah hamil muda Aku hanya lupa membawa pil antimualku jawab Santi dengan nada suara yang bisa didengar oleh beberapa orang yang berada di dekatnya Tapi kondisi perutmu baik baik saja kan tanya ulang Palupi Tak apa apa Hanya sedikit mual saja Santi meyakinkan Biar nanti aku telepon Hendra untuk tanya apa nama pil mualku Aku bisa cari di apotek nanti Santi berbohong Latihan itupun berlanjut setelah Santi meminta pengertian kepada para kru lainnya Betapa ia sangat ingin membantu Om Probo dengan ikut menari mungkin untuk yang terakhir ini Hingga latihan di hari berikutnya dan hari berikutnya Santi merasa nyaman dengan semua itu meski perutnya tak mau bersahabat Hanya perutnya Ia merasa dengan menari semua beban yang menyesaki kepalanya dengan ajaib bisa menguap Ia merasa tak ada masalah lagi Tak ada Hingga malam pertunjukan itu tibalah Malam itu ia melihat Taman Budaya Jawa Tengah tampak ramai sekali Beberapa penari perwakilan negara ASEAN tampak menarik dalam balutan kostum masing masing Santi sendiri merasa meletup letup dalam balutan kain kemben Setelah lima tahun berlalu akhirnya kini ia bisa merasai lagi sensasinya memakai cindhe kembang berwarna ungu lengkap dengan pendhing bermata dan segala manik maniknya Meski hawa dingin sedikit mengganggu lantaran bagian atas dadanya yang terbuka Ia harus menahan rasa mual yang sesekali waktu masih datang mengganggu Harus Demi kawan kawannya demi Om Probo dan tentu saja demi dirinya sendiri di masa yang akan datang Kamu ini murid yang paling durhaka ujar Om Probo saat Santi akhirnya kembali bersua Tubuh lelaki itu sudah sangat memprihatinkan Meski selera makannya masih bagus tapi sepertinya hal itu tiada dapat membantu memperbaiki kondisi tubuhnya yang sudah seperti mayat hidup Hanya bisa tergolek pasrah macam bayi berambut uban Laras yang sudah mati saja masih mau gentayangan ke sini Gentayangan Dia sudah mati Kau tak akan lagi bisa melihatnya menari Rasanya pasti lebih buruk ketimbang penyakit yang kuderita Santi menahan keinginannya untuk bisa bertemu kembali dengan Laras si cantik yang dulu menjadi primadona para penonton Tari Gambyong akan lebih menggigit jika penarinya seorang rupawan yang memiliki daya pikat kuat dengan lenggang lenggoknya Kalaupun sekarang ia sudah mati dan tak bisa kembali lagi menari seperti apa rupa suami Laras itu Kehidupan seperti apa yang bisa membunuh semangatnya yang dulu amat menggebu itu Aku ingin bisa ke Perancis sekalian melihat lihat pameran busana yang sedang tren mencari barang barang

    Original URL path: http://www.femina.co.id/fiction/sangkar-di-atas-leher--2- (2016-02-15)
    Open archived version from archive

  • Sangkar di Atas Leher [3]
    yang terkurung dalam sangkar di atas kepalanya itu Apa pun yang terjadi kemudian Sebesar apa pun kemarahan Hendra asalkan sesak dalam dada Santi lenyap Biarlah burung kecil itu terbang bebas sesuka hati Biarlah keinginan itu menemukan muaranya Tak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada itu Melebihi segala kesenangan yang coba ditawarkan Hendra demi menghapus kesedihan setelah kehilangan janin untuk ketiga kalinya Toh percuma saja jika harus selalu menyalahkan kehadiran virus tokso dalam rahimnya Bagaimana pendapatmu kalau kita ke Karimun Santi tahu bahwa Hendra coba menghibur kesedihannya Setelah kemarahannya berhari hari kemarin Dokter menganjurkan agar mereka jangan melakukan hubungan intim serentang tiga bulan Santi memang lebih banyak mengunci mulut dalam lamun Dan mungkin Hendra menganggapnya masih terperangkap dalam duka Santi tak mau membuka semuanya Ada banyak yang ia simpan dan tak ia ungkap Ini tentang gambaran masa depan yang diinginkannya Serasa ada lorong gelap di ujung sana Lorong tak berujung Lorong nasibnya Apakah ia akan seperti ini selamanya Menjadi seekor burung dalam sangkar yang hanya indah dipandang pembelinya Tawaran itu ia terima meski tak begitu menginginkannya Mengunjungi Karimun untuk yang kedua kali Mengunjungi tempat tempat yang dulu pernah menjadi kenangan terindah selama bulan madu Mengenang keindahan semu di Tanjung Gelam Legon Lele dan kehidupan orang orang Karimun yang bersahaja Hendra memamerkan beberapa hasil kerjanya di sana Beberapa fasilitas umum yang proyek pembangunannya ia menangkan dan kini telah selesai ia garap Bakar bakar ikan cumi di pantai sembari mengagumi langit malam di Pulau Kemujan Santi harus belajar berpura pura bahagia Aku benar benar tak sabar menunggu tiga bulan berikutnya Emak dan Bapak sudah makin tak sabar apalagi setelah musibah kemarin Mereka sudah benar benar mengharapkan cucu dari kita Bahkan liburan ini Emaklah yang mengusulkannya agar kamu cepat pulih Lupakan semua kesedihan Entah apakah bahagia yang terlihat di wajah Hendra itu adalah sungguh sungguh bahagia Sebuah pikiran kemudian terlintas dalam benak Santi Ada sebuah tanya yang melompat lompat dalam dadanya Tentang seberapa besar rasa cinta Hendra tentang alasan kenapa dulu Hendra memilihnya Bolehkah aku bertanya tentang sesuatu Kedua matanya menerawang jauh ke tengah gelapnya Laut Jawa Terlihat beberapa kerlip tanda perahu bergerak menjauh dari daratan Seperti harapan yang ingin melaju ke tujuan Sementara cahaya mercusuar menjadi petunjuk perjalanan Bertanya apa Kenapa mesti meminta izin segala kata Hendra sambil memutar mutar sebatang lidi yang telah penuh dengan ikan cumi Bumbu dan segala peralatan bakar ikan terhampar di hadapan keduanya Bau sedap menguar hebat Sebenarnya atas dasar apa dulu kau menyukaiku Hendra langsung menoleh Sate cumi tak terlihat menarik perhatiannya lagi Aku suka kamu itu saja Kenapa Apakah cinta mesti butuh alasan untuk meyakinkan Kalau sekarang atas dasar apa kau menyukaiku Heeh Hendra beranjak mendekati Santi lalu mendekapnya dari samping Kau ini kenapa Aku tanya kalau sekarang atas dasar apa kau menyukaiku Santi menemui kedua mata Hendra Meminta kejujuran Aku menyukaimu aku mencintaimu Harus dengan apa aku membuktikannya Hendra mencium pipi Santi lalu kening lalu pipi bertubi tubi Kalau kau mencintaiku kenapa kau melarangku menari Langsung terpaku Hening sejenak Hanya ada suara ombak dan berisik

    Original URL path: http://www.femina.co.id/fiction/sangkar-di-atas-leher--3- (2016-02-15)
    Open archived version from archive

  • Sangkar di Atas Leher [4]
    ikut arisan apa atau apa begitu Dengan uang suamimu aku yakin kau bahkan bisa merintis sebuah sanggar sepertiku Ratna terus dan terus mengoceh Seolah ia lupa bahwa dunianya sungguh beda dengan dunia Santi Eh apa kau mau menolongku katanya kemudian Sebuah jeda yang menghentikan Santi dari lamunan Antarkan aku keliling Jepara yuk Minta izin suamimu ya Aku ambil kau sehari untuk jadi guide ku Eh tapi kalau ke Karimun apa cukup sehari ya Santi pun kemudian cerita bahwa baru beberapa hari lalu ia dan Hendra usai mengunjungi Karimun Nah kurang apa coba si Hendra itu Lalu apa yang membuatmu gelisah seperti dalam ceritamu tadi Tentu saja ada yang Santi sembunyikan dari sahabatnya itu Tunggu sebentar seru Santi tiba tiba Kening Ratna berkerut melihat Santi yang tiba tiba minta turun di tengah perjalanan Apalagi kemudian ternyata Santi hanya menghampiri seorang penjual burung yang dikerumuni oleh kaum lelaki Cukup lama Ratna menunggu Hingga bosan kemudian membuatnya turut keluar menghampiri Santi Sungguh tak percaya Ratna dengan apa yang ia dapati kemudian Ternyata Santi tengah sengit menawar beberapa burung yang menjadi sumber kerumunan itu Ingatan Ratna langsung kembali ke saat ia menemui Hendra di kolam lele belakang rumah sahabatnya itu Tak ada ceria di wajah lelaki yang pernah menjadi temannya pula itu Meskipun dia mengizinkan Tampaknya ada masalah berat yang sedang merentangkan jarak di antara pasangan suami istri muda itu San apa yang kau lakukan tanya Ratna Kelakuan aneh Santi ini benar benar membuatnya khawatir Buat apa sahabatnya ini menawar burung banyak burung Apakah perjalanan ke Karimun membutuhkan burung Dengan gilanya Santi bahkan berani menawar dengan harga yang mengalahkan para penawar lain Apa ini titipan Hendra Ratna tahu bahwa Hendra seorang penggemar burung fanatik Tapi Santi masih terlihat tak peduli dengan Ratna Orang orang dalam kerumunan itu bahkan dibuat terpana dengan aksi Santi yang begitu heroik menawar semua burung dengan harga yang tak terjangkau oleh siapa pun Padahal burung burung itu hanyalah burung yang tak memiliki keistimewaan apa pun dan seharusnya berharga murah macam burung jambul kacer emprit maupun trucukan Mudah didapat di persawahan maupun di hutan sekitaran desa Ada sepuluh burung yang akhirnya terbeli dengan harga total tiga jutaan Membuat si penjual burung berubah jumawa dan semena mena menawarkan harga tinggi kepada pembeli lainnya Tapi rasa bangganya itu terputus sejenak saat melihat kelakuan Santi kemudian Tanpa canggung canggung Santi membuka pintu semua sangkar berisi burung yang telah dibelinya San apa yang kamu lakukan Ratna menepuk nepuk punggung Santi Rasa cemas mulai kentara menghiasi wajahnya Perjalanan ke Karimun sudah terlupakan dari benaknya Mereka harus bebas Rat Biarkan mereka menemui malaikat yang akan membatalkan kutukan kutukan itu Aku harus menolong perempuan perempuan malang itu katanya tanpa menoleh Terlihat nikmat menyaksikan burung burung yang satu per satu dilepaskannya Sementara orang orang yang menyaksikan kejadian itu berdecak decak menyayangkan perbuatan Santi Beberapa di antara mereka ada yang coba meminta barang seekor atau mengganti harganya namun Santi bersikeras tak mengabulkan San kamu kenapa Apa perlu aku panggilkan Hendra Ada urusan apa kau dengan penyihir jahat itu bentak Santi

    Original URL path: http://www.femina.co.id/fiction/sangkar-di-atas-leher--4- (2016-02-15)
    Open archived version from archive

  • Legen
    aku mulai menangis Simbok tak bisa berbuat apa apa karena hanya Bapak yang bisa membuatkan mainan itu sementara Bapak hanya datang tiga hari sekali Kenapa Bapak tidak bisa seperti bapaknya Sri dan Yuni yang tiap saat ada di rumah tanyaku suatu ketika Simbok hanya bisa tersenyum sambil mengelus rambutku Pertanyaanku justru terjawab oleh salah seorang anak bapak dari ibu yang pertama Namanya Mas Pur Ia sering mengejekku sebagai anak haram jadah Dulu kata kata itu tak bisa begitu saja aku pahami Seiring bertambahnya usia aku mulai bisa mengerti Simbok adalah istri muda Bapak Mereka hanya menikah secara siri Bapak tidak pernah menafkahi Simbok Nafkah Bapak hanya berupa kebun kelapa yang coba dikelola oleh Simbok agar bisa menghasilkan gula merah Dari sanalah Simbok bisa membiayai sekolahku sampai hampir tamat kuliah Kamu harus menjadi anak yang pinter Nduk Jangan seperti Simbok yang hanya berpendidikan rendah ucap Simbok yang selalu diulang ulangnya Kenapa dulu Simbok mau diperistri Bapak Bukankah itu namanya Simbok merusak rumah tangga orang lain tanyaku saat aku mulai remaja Aku sangat geram dengan ejekan ejekan Mas Pur saat aku pulang sekolah Ia tidak hanya mengejekku sebagai anak haram Ia juga mengejek Simbok sebagai perempuan murahan gula gula perebut suami orang Simbok sudah mengira suatu saat tidak hanya orang lain yang akan menghina Simbok Tapi kamu anak Simbok sendiri juga akan melakukan hal yang sama Ada titik bening di kedua mata Simbok Tapi air mata itu tidak berhasil membuatku luluh Jiwa remajaku tidak bisa menerima kondisi keluargaku yang berbeda ini Aku iri pada Yuni yang selalu diantar jemput ayahnya saat berangkat dan pulang sekolah Aku ingin seperti Sri yang dimarahi bapaknya saat pulang pacaran terlalu larut Bapak tidak bisa tiap saat menemaniku belajar karena Bapak punya dua rumah tangga yang menjadi tanggung jawabnya Dan aku sangat membenci kenyataan itu Maafkan Bapak ya Nduk Bapak tidak bisa menjadi seorang bapak yang baik ucap Bapak suatu ketika Seandainya janin bisa meminta kepada Tuhan kepada rahim siapa ia memercayakan kehidupannya ucapku seolah kepada diriku sendiri Kamu sudah besar Nduk Sudah pinter ngomong Yang perlu kamu tahu kamu itu tetap anak Bapak dan Simbok Kami menikah sah secara agama Jadi tak usah kau hiraukan omongan masmu Pur yang menyakitkan itu Ada getar dalam suara Bapak Getar yang kutangkap sebagai suatu penyesalan Ni tolong kau masukkan air gula ini ke dalam cetakan Aku akan menemui si Pur ucap Simbok menyadarkan aku dari lamunan Sambil menuangkan air gula aku mencoba memasang telingaku agar bisa menangkap pembicaraan Simbok dengan Mas Pur Bu Lik tahu saya ini anak sahnya Bapak Ya aku mengerti Kebun itu menjadi hak saya setelah Bapak meninggal Tanahnya bisa kau ambil Tapi tolong jangan ditebangi pohon kelapanya ya Le Pohon pohon itulah satu satunya sumber mata pencaharianku Pohon pohon kelapa itu juga sudah terlalu tua Bu Lik Nira yang dihasilkan pasti juga tidak sebanyak dulu Berapa bumbung coba yang bisa dibawa turun Lik Midi dalam sehari Paling tidak tolonglah kau tunggu sampai Ni lulus kuliah Kau tahu adikmu itu masih butuh biaya banyak untuk skripsi

    Original URL path: http://www.femina.co.id/fiction/legen- (2016-02-15)
    Open archived version from archive

  • Celana Kargo
    pasir yang menggelindingkan benang benang ini Tiap hari Nayna menjauhi lubang itu Ia tak punya nyali saat si celana kargo memergoki Apa maksudmu si celana kargo bertanya lagi Sepertinya ia berusaha mengintip apa yang Nayna lakukan Nayna selintas melihat matanya yang besar hidungnya yang mancung dan rambutnya yang pendek dan acak acakan Nayna melanjutkan kembali pekerjaannya namun ia tak bisa konsentrasi Terutama ketika penyesalan melandanya karena si celana kargo kemudian pergi Tanggal 21 April Si celana kargo tidak datang Atau ia memilih lubang lain untuk bersandar Tanggal 22 April Si celana kargo tetap tidak datang Namun saat ia menoleh untuk kesekian kali berharap celana warna krem itu muncul Nayna mendapatkan banyak gumpalan benang kecil di lubang bagian luar Dengan bingung ia menghampiri lubang itu diambilnya benang benang tersebut ternyata sama dengan yang dimilikinya Lalu saat ia menjulurkan tangan hendak mengambil yang paling jauh sebuah sapaan lembut ia dengar Halo kata suara itu Si celana kargo Aku kembalikan benang benangmu katanya Nayna tercekat Dari mana k au dapatkan ini Karena Nayna tahu pasti angin telah menerbangkan benang benangnya Dari tempat kerjaku kata si celana kargo ramah Orang yang melihatnya di luar pabrik mungkin akan heran melihat ia menungging di tanah seperti itu Aku Salim katanya sambil mengulurkan tangannya ke dalam lubang lantai tiga Barulah Nayna mengerti Salim pekerja lantai tiga yang masuk di shift tiga Sejak tujuh tahun yang lalu Rana Plaza memang menjadi bangunan empat lantai Bisa menampung ribuan pekerja dalam satu waktu memenuhi pesanan yang makin laku Nayna balasnya sambil menyambut uluran tangan Salim Salam kenal Nayna sahut Salim Ia tersenyum lebar meski hanya nampak sebagian Saat itu juga Nayna ingin keluar memandang Salim dari bawah hingga atas dari ujung celana kargo ke pemilik senyumnya berusaha menata penampilan Salim dalam ingatannya Namun hardikan keras dari pak mandor menghentikan mimpinya Nayna kembali sibuk bekerja Tanggal 23 April Mungkin Salim sengaja berlama lama berada di dekat lubang Berbagai posisi kaki Nayna lihat dari balik lubang menandakan pemiliknya sedang gelisah Gerakannya kadang mengundang debu masuk dan Nayna terbatuk Lalu seolah sadar Nayna kemasukan debu kaki itu diam mematung Nayna tertawa dalam hati melihat tingkah Salim Lalu kaki itu menghilang Nayna merasa kehilangan Tidak lama Salim menyodorkan setangkai bunga lewat lubang Hanya tangannya yang mengangsurkan ke dekat kepala Nayna Untung tidak kena mata Bunga yang biasa Namun sungguh membuat Nayna terharu karenanya Salim bahkan wajah Naynapun ia tak jelas melihat Hanya sepasang mata yang saling bertatapan separuh senyum dan tentu celana kargo yang membuat Nayna jatuh cinta Besok jangan masuk duIu bisik Salim Temui aku di sini Lebih mudah menunda masuk daripada mempercepat keluar bisiknya lagi Jantung Nayna berdebar keras Bagaimana kalau pak mandor marah Bagaimana kalau ia dipecat Siapa yang membiayai pengobatan ayahnya sekolah adiknya Maka Nayna menggeleng meski sadar Salim tak akan melihatnya Salim di sini saja balasnya Aku takut bisiknya Hening sejenak Mungkin Salim kecewa Kamu tak mau melihat aku tanya Salim tertahan Nayna ingin menangis Tentu Salim tentu aku ingin melihatmu Tapi lubang ini terlalu kecil untuk memandangmu utuh

    Original URL path: http://www.femina.co.id/fiction/celana-kargo- (2016-02-15)
    Open archived version from archive

  • Sepasang Sumpit
    penggemar berat drama drama negara tersebut pastilah kali ini melampaui yang sebelum sebelumnya Saat Laga merogoh saku dalam jasnya jantung Wido mulai berdegup tak tentu Matanya tak bisa lepas dari tangan lelaki itu Tampaknya benda itu besar karena tersangkut dan Laga kesulitan mengeluarkannya Dengan agak kasar dan menggeram sedikit lelaki itu menarik lolos hadiahnya Lalu tampaklah oleh Wido sebuah kotak kecil panjang berlapis beledu biru royal Dada Wido naik turun tidak sabar tapi ia berusaha keras menutupinya demi menjaga image Untuk sepuluh tahun hubungan kita Laga mengulurkan kotak itu sambil tersenyum lebar Wido meraihnya menimang nimang Tidak terlalu berat Ia jadi makin penasaran Kubuka ya tanyanya tanpa sungkan Laga mengangguk Musik pada piano berganti jadi sebuah lagu berirama cepat Jantung Wido makin kencang memukul dada Ternyata tutup kotak itu alot Dengan sebuah cengkeraman kuat dan sedikit entakan barulah benda itu berhasil terbuka Ketika sudah terbuka Wido merasa tak percaya dengan matanya In ini ucapnya terbata Di sana di atas beledu warna darah terbujur bagai suatu pusaka keramat sepasang sumpit Tak masuk akal Sumpit Kado sepuluh tahun kebersamaan mereka hanya sepasang sumpit Dilihat bagaimanapun meski benda kurus panjang itu terbuat dari kayu mahal hitam mengilat tetap saja sumpit Pasti ini hanya salah satu humor Laga yang nyeleneh pikir Wido Namun sampai dessert mereka seporsi Milk Chocolate Swedish Cream with Mango Gelato ludes Laga tak menunjukkan tanda kalau kadonya untuk Wido hanya sebuah guyonan Ia tetap saja ceria seperti tak berdosa Wido pura pura senang dengan apa yang ia dapat Dalam hati kerisauannya akan isu kesulitan keuangan Laga langsung menjalar ke mana mana Kalau dipikir pikir restoran ini pun tidak semewah yang biasa mereka kunjungi Separah itukah dampak kerugian yang lelakinya alami Dalam minggu minggu berikutnya apa yang Wido takutkan menjelma kenyataan Mimpi buruk itu datang juga pada akhirnya Satu per satu gerai Laga ditutup Barang barang dikosongkan Bahkan waktu beberapa hari lalu Wido jalan ke sebuah pusat perbelanjaan salah satu stan di mana toko elektronik milik kekasihnya biasa berada kini tengah mengalami renovasi Sebuah butik akan ganti menempati Tulisan coming soon dengan foto seorang wanita tertawa lebar menenteng banyak tas belanjaan terpampang di sepanjang tembok Wido gentar berdiri sendiri di hadapannya Kemudian datang bayangan bayangan itu dalam kepalanya Gambaran ia sebagai seorang Nyonya Kusumadilaga Adiputra harus mencuci baju sendiri menggosok kloset dan lantai kamar mandi sendiri memasak sendiri berberes rumah sendiri mengepel menyikat menyetrika Segala pekerjaan rumah yang tiada habisnya itu Tangannya yang putih dan terawat akan berubah kasar dan kapalan seperti tangan ibunya Dan ia tak ingin seperti itu Wido ingat betul rupa tangan ibunya Saat ibunya membelai wajahnya dulu rasanya seperti ada amplas digosokkan ke sana Ketika mengelus rambutnya kapal yang mengelupas di telapak itu kerap tersangkut Betul betul mengerikan Terlebih tak akan pernah ada lagi makan malam di restoran restoran ternama tak ada lagi perhiasan perhiasan tak ada lagi liburan ke mancanegara tak ada baju baju mahal keluaran rumah mode perawatan perawatan tubuh Ia tak akan bisa menjentikkan jari dan tahu beres karena ada orang orang yang melayani

    Original URL path: http://www.femina.co.id/fiction/sepasang-sumpit- (2016-02-15)
    Open archived version from archive

  • Femina | Fiction
    Style Beauty Trend Tips Shopping List Celebrity Style Food Recipes Easy Cooking Kitchen Tips Food Review Trend Community Wajah Femina Femina Friends Women s Leadership Network Writers Club Wanita Wirausaha Event Agenda Sayembara Polling Quiz Fiction Gadis Pesisir Lukisan Berbingkai Panjang Bajama Emprit Ganthil 1 Emprit Ganthil 2 Emprit Ganthil 3 Emprit Ganthil 4 Pemain Biola Santa Klaus Tak Singgah di Rumah Boa 1 2 3 4 5 follow us polling Masak Sendiri Apakah Anda memasak sendiri hidangan sehari hari untuk keluarga di rumah Ya Biasanya saya yang memasak Ya Biasanya ART yang memasak Tidak Saya pelanggan katering bulanan Tidak Lebih praktis beli di luar SUBMIT View Result about Femina is a magazine for smart independent modern Indonesian women digital magazine Available at subscribe 6221 46825555 langganan feminagroup com www ipelanggan com contact privacy policy term conditions 2015 Femina Indonesia Femina Group All Right Reserved polling quiz Masak Sendiri Apakah Anda memasak sendiri hidangan sehari hari untuk keluarga di rumah Ya Biasanya saya yang memasak Ya Biasanya ART yang memasak Tidak Saya pelanggan katering bulanan Tidak Lebih praktis beli di luar SUBMIT View Result log in Email Password Automaticaly log me in when i return Forgot username or password New

    Original URL path: http://www.femina.co.id/fiction/?p=2 (2016-02-15)
    Open archived version from archive